PILLOW

Standar

BANTAL LOVETerlelap dalam tidurku, kamulah yang selalu hadir dimimpiku, menghiasi malamku. Dalam tidurku, kubermimpi kamu selalu datang menemaniku, memeluk dengan cinta

I think i fell in love with you

*****

Brraakkk…. aaaauuuuu……!!! aku menjerit kesakitan. Lagi dan lagi aku terjatuh dari atas tempat tidurku, padahal tempat tidurku cukup luas untuk ukuran satu orang, apalagi dengan ukuran tubuhku yang ramping, tapi sialnya aku selalu terjatuh dari tempat tidurku

“Haduuhhh…” aku meringis menahan sakit ketika mendapati siku tangan kananku memar

“Kenapa loe? mimpi ketemu prince charming lagi, ya?” Tia mendadak masuk kekamar lalu berjalan tanpa pamit ketika melangkahi kakiku mendekati lemari baju miliknya

Huuufffttt… aku mendengus kesal tak mau berkomentar. Sial! pikirku memaki dalam hati

“Uda! buruan bangun. Uda siang, nih. Mau telat lagi kayak kemarin kekampus? mau kena skors lagi…???”

Haahhhh… aku hanya menghela nafas tak menggubris Tia yang kembali keluar dari kamar sambil membawa beberapa buku besar

*****

“Kenapa, masih sakit?” tanya Tia perhatian

Aku menganguk pelan tak bersemangat

“Uda dikasih obat gak tadi dirumah?”

“Uda… tapi masih perih, sih”

“Ya, udahlah. Gak usah disesalin. Mau gimana, namanya juga musibah”

“Musibah, sih musibah, tapi gak segininya juga kali… masa tiap hari…”

Hahahaha… tawa Tia membuatku kesal bercampur bingung. Tia teman satu kos sekaligus teman kampusku ini memang terbilang sangat cuek, tapi dia sangat cerdas dan selalu ada buatku meski sikap cueknya sering kali membuatku naik darah

“Loe, tuh jahat banget, ya!” kataku marah pada pada Tia

“Jahat gimana?”

“Tau, akh… gelap!”

“Yeee… ngambek”

Aku makin merengut

“Jelek tau wajahnya ditekuk gitu”

“Biarin”

Aku tetap melangkah tanpa memperdulikan Tia yang menghentikan langkahnya, aku penasaran, menoleh kebelakang, tapi Tia tak ada

“Akkhh… tuh anak mirip mbak kunti, deh” gerutuku kesal

Doorrr….

“Tiaaa!!!” jantungku hampir copot, mendadak Tia sudah berada didepan mataku

Hahahaha… tawa Tia meledekku tanpa merasa bersalah

“Uda, jangan nangis. Mewek mulu taunya”

“Loe itu ngeselin banget tau!”

“Uda..” Tia yang tak mau tau langsung menarik tanganku, membawaku berlari kearah perpustakaan kampus

“Kita mau kemana?” tanyaku dengan nafas ngos-ngosan, tapi Tia seperti tuli, dia diam saja dan tetap membawaku lari mendekati perpustakaan kampus

*****

“Nohhh…, tuh… obat sakit dan mengatasi musibah loe”

Oh, my God. Ingin rasanya aku pingsan ketika kami sampai dikampus dan melihat seorang cowok super cool yang keren abisss… nih cowok emang satu jurusan dengan Tia. Ryo cowok smart super cerdas itu sering kami sebut dengan Albert Einsten kw 2, karna kepintarannya menyerupai orang paling pintar didunia itu

“Uda, sana dekati” Tia mendorong tubuhku

“Apaan, sih loe. Emang gue cewek apaan?”

“Buset, dah pikirannya” Tia menatapku tajam “ya, loe pikir dong kita uda temenan 6tahun lebih, masa iya gue mau jerumusin loe ke hal yang gak bener Geviii…!!!”

“Iya… habis loe nyuruh-nyuruh gue deketin tuh cowok. Lah, loe sendiri tau, gue gak pernah teguran apalagi sampe ngobrol ama doi. Gimana gue mau deketin?” mau ditaruh dimana muka gue?”

“Taruh dibaskom aja”

Aku merengut, menahan marah

“Hei girls..” sapa Ryo ramah. Sontak kurasakan angin segar nan sejuk membawa kedamaian mengelilingiku. Aku terpaku menatapnya tanpa berkedip sedikitpun

Aaawww… Tia menyikut lenganku, aku kesakitan, Tia mengedipkan matanya memberi kode. Ya, aku ngerti, itu berarti aku harus bersikap normal

“Dari tadi gue uda nugguin loe berdua”

“Haahh..??? nungguin kita??? oh, my God… oh, my God apa yang kudengar barusan adalah nyata” pekikku dalam hati, wajahku berbinar-binar mengalahkan matahari yang bersinar sangat terang

“Sorry, tadi ada urusan bentar”

“Oh, gak pa-pa. Nyantai aja”

“Oh, ya.. by the way, nih temen gue yag gue ceritain kemarin”

Whatt…??? jadi selama ini gue jadi bahan gosipan Tia dan Albert Einsten kw 2 ini. Aku tak percaya sama sekali, tega betul Tia berbuat seperti ini padaku. Tidaakkk.. tiddaakkk…!!!

“Hei, ternyata selama ini loe main rahasian, ya ama gue, sampe gue jadi bahan gosipan loe berdua” aku menarik lengan Tia hingga sedikit menjauh dari Ryo yang memandangi kami aneh

“Grrrr…. harusnya loe berterimakasih ama gue, karna gue berhasil tau kalau dia itu fans sama loe”

“Maksudnya?”

“Loe tanya aja nanti ama doi”

*****

Aku baru tahu, kalau Ryo yang super cool ini ternyata pecinta novel romantis. Aku juga baru tahu kalau Ryo sangat romantis, jelas terlihat dari cara dia mempersilahkan aku duduk dengan sopan, memesan menu makananku meski aku tak tau Ryo apakah Ryo tahu makanan kesukaanku, aku tak peduli lagi soal itu, hehehe…

“Maaf, ya.. sebenarnya selama ini gue pengen banget deketin loe  secara langsung dan bilang, kalau tulisan loe begitu indah”

Hehehe.. aku tak mampu berkata apa-apa

“Untung ada Tia, kalau gak, gue gak bakalan tau kalau novelis yang selama ini gue kagumi itu adalah loe, cewek cantik yang selama ini ada didepan mata gue”

“Akh, loe bisa aja. Makasih buat pujiannya” jawabku dengan wajah bersemu malu “loe kan baru pindah kekampus ini, belum lama lagi. Kok, tiba-tiba loe uda dekat gitu aja dengan Tia? kok bisa?”

Ryo tersenyum tipis, senyuman dengan tatapan teduh itu seolah membuatku ingin pingsan

“Jadi loe belum tau, ya?”

Hahhh??? aku tercegat, jantungku rasanya sakit seketika. Jangan… jangan… jangan katakan kamu dan Tia itu pacaran! sungguh aku gak akan rela! gak akan pernah rela…!!!

Aku menggeleng…

“Tia itu sepupuku”

“Serius loe?”

Ryo menganguk. Kok bisa? batinku bertanya-tanya. Enam tahun kami bersahabat aku tak pernah  tau Tia memiliki sepupu seganteng ini

“Ya, jadi ceritanya gini. Dari kecil gue uda tinggal sama bokap dan nyokap diBerlin, Jerman. Trus gue uda lama gak kontak dengan keluarga Tia. Nah ketika gue coba cari jejaring sosial Tia, dapet. Dan suprise ada photo Tia sama loe, makanya gue seneng banget. Semenjak itu gue dan Tia akrab lagi”

“Tapi kalian sepupu kok beda jauh, ya?”

“Maksudnya?”

“Yaaa… loe putih, trus rada-rada bule campur oriental gitu. sementara Tia hitam manis gitu, ya alami banget Indonesianya”

Hahahaha… Ryo tertawa keras “Wajar aja kali… kan BHINEKA TUNGGAL IKA”

Aku bingung

“Bokap gue asli orang Indonesia, nyokap gue itu setengah orang Jerman setengah orang Jepang. Tapi, nenek dari nyokap orang Indonesia asli. Bokap gue dan bokap Tia kakak beradik”

“Oh, gitu.. iya, ya.. gue ngerti sekarang”

“Permisi.. ini ice creamnya” kata pelayan yang menyeguhkan pesanan kami

“Wah, loe kok tau ice cream favorit gue?”

“Tau, dong… gue kan sering baca status loe difacebook”

Deg! jantungku selalu ingin copot setiap kali Ryo menyampaikan sesuatu
“Emang… kita temenan, ya difacebook?”

“Iya”

“Really?”

“Sure” jawab Ryo lalu membuka tabletnya “neh..”

Oh, my God… kok aku buta banget, ya selama ini, gak nyadar kalau cowok gebetanku ada didaftar perteman facebook sendiri. Ini kali, ya yang namanya jodoh. Ada aja jalannya kita bertemu. Dan kuharap Ryo benar jodohku, harapku dalam hati

“Dan ini semua sebenarnya uda dari 3 bulan lalu aku persiapkan bareng Tia, makanya tadi Tia langsung cabut dan ninggalin kita. Cafe favoritmu, makanan kesukaan kamu, dan satu lagi…”

Kalimat Ryo mendadak berubah dari gue- loe jadi aku-kamu, hehehe… bodo amatlah, ya penting gue happy

“Apa?” tanyaku tak sabar

Ryo berjalan keluar cafe dan kembali masuk dengan membawa setangkai bunga tulip putih dan satu bantal berbentuk hati warna merah hati…haaahhhh… romantis banget, sih… aku sampai tercengang dan tak sadarkan diri dibuatnya sampai-sampai aku menangis

“Ini buat kamu, i hope you like” katanya sambil menyodorkan bunga tulip tersebut lalu… “ini… buat kamu juga, agar tidurmu lelap dan bermimpi yang indah tentang kita berdua”

Aku tak tau harus berkata apa, ini seperti mujizat untukku. Aku tak pernah mengkhayalkan semua ini terjadi padaku. Tapi hari ini nyata bagiku. Oh, God… thankyou…

“Maaf, ya kalau selama ini dikampus aku berlagak cuek sama kamu, tapi itu semua untuk menyembunyikan rasa maluku bertemu kamu, karna kamu begitu indah dan special bagiku”

Aku hanya terdiam, terharu memandanginya..

“Kamu mau gak jadi pacarku?”

Aku sontak terkejut

“Ya, aku tau ini gila dan terlalu cepat. Tapi aku mengatakan semua ini dengan sadar, bukan karna kamu itu orang yang aku kagumi sebagai seorang novelis kesukaanku. Tapi ini memang rasa yang kumiliki semenjak melihat kamu pertama kali dikampus, dan saat itu aku berpura-pura cuek tak melihatmu, padahal aku hampir pingsan menahan gejolak perasaanku padamu. Jadi, kamu mau gak jadi pacarku?”

Tak menunggu waktu terbuang lebih banyak lagi, aku mengangukan kepala

“Anggukan kepala itu artinya apa? iyakah?”

“Iya. Aku mau jadi pacar kamu”

“Serius?”

“Serius bangettt…”

Ryo langsung memelukku erat, mencium keningku lembut. Aku tak bisa berkata apapun lagi…

“Trimakasih sahabatku Tia yang super cuek, kalau bukan karna kamu aku gak akan bisa hari ini memeluk prince charmingku dan mendapatkan bantal cinta yang akan menemani tidurku. Dan aku yakin setelah ini aku tidak akan jatuh lagi dari tempat tidur, karna aku sudah bertemua prince charmingku…” kataku dalam hati dengan hati

Riuh tepuk tangan tiba-tiba memenuhi ruangan, aku malu, tapi Ryo cuek saja. Para pengunjung cafe turut senang meski kami tak mengenal mereka, ada yang bersiul, ada yang mengacungkan jempol dan mengucapkan selamat

Aahhh… hari ini rasanya indah sekali, seindah ;langit biru dengan awan putih yang berarak mendampinginya…

Ditulis oleh : EVA Siregar

Tulip dan Kincir Angin

Standar

negeri_tulip_belandaAdalah aku, yang mengenalmu ketika hati terburai akibat penistaan cinta diatas kesetian. Aku sempat berdarah, meradang, meraung kesakitan olehnya, dimasa lalu

Sulit bagiku untuk bangkit dari cerita kemarin, terlalu menyesakkan jiwaku, hingga gelap duniaku. Lalu terangmu datang melebihi matahari, menyejukkan hatiku yang telah melayu

“Kamu itu indah, dan jauh lebih dari sekedar indah, tak pantas senyummu menghilang oleh badai yang menghantammu kemarin. Biarkan aku membawa kembali senyumanmu, dan menempatkannya dibelahan bibirmu yang manis”

Ya, kata-kata itu membuatku tertegun, tapi tak ingin langsung kupercaya. Bisa saja kamu itu serigala berbulu domba bagiku, karna dia juga dulu teramat lembut

Akkhhh… sudahlah, lupakan pikirku. Kala itu..

****

“Hi… bertemu lagi”

Aku terkejut dengan sapaan yang sangat khas itu. Suara yang selalu riang penuh semangat menyapaku. Ya, itu kamu. Kadang aku bingung, kenapa kamu selalu tiba-tiba saja muncul seperti hantu bergetayangan dalam hidupku

“Pergilah” jawabku datar dan berlalu meninggalkannya yang masih tersenyum memandangiku

“Tunggu!” Rino mencegat sambil membentangkan kedua tangannya didepanku

“Aa..paa.. aann…, sih” kataku pelan menahan kesal

Hehehe… Rino tertawa kecil, aku makin kesal, ingin muntah mendengar tawanya

“Ayo…” tanpa basa-basi Rino menarik tanganku, Ingin rasanya aku berontak, tapi entah kenapa, aku seperti terhipnotis mau saja mengikutinya

“Ini dia” katanya girang begitu kami sampai disatu cafe seberang jalan “ayo masuk” Rino membukakan pintu untukku dan mempersilahkan aku dengan sopan masuk kedalam cafe tersebut

“Wow” batinku takjub melihat cafe itu

“Indah bukan?” tanya Rino sambil mempersilahkan aku duduk, kemudian langsung pergi menuju meja kasir memesan menu khas cafe tersebut

Tak lama kemudian kami disugukan dua cangkir coklat hangat dengan taburan cream bergambar bunga tulip warna merah hati

“Hei… it’s so cute” aku kegirangan dengan mata berbinar-binar

“Kamu suka?”

“Bangettt…”

Rino tersenyum sambil merapatkan kedua belah tangannya yg menopang dagunya. Sorot mata Rino penuh makna menatapku, aku sampai tersipu malu

“Ya, uda cobain donk. Ini seger banget coklatnya, aku yakin kamu bakalan ketagihan”

Entah darimana Rino tahu aku ini pecinta bunga tulip, tapi yang pasti aku sangat menyukai cara penyuguhan coklat ini, ini sangat luar biasa bagiku

“Gimana?” tanya Rino penasaran begitu aku selesai meneguk coklat hangat tersebut

“Uummm…..” aku hanya mengacungkan jempol saking menikmati coklat hangat tersebut “it’s amazing…perfect” kataku senang

“Good…”

“Kok aku gak pernah tau ada tempat seperti ini disini?”

“ouhh.. jelas dong, ini kan cuma orang-orang tertentu aja yang tahu, dan ditujukan untuk orang-orang special, sepertimu”

Hehehe… aku hanya tertawa kecil lalu kembali menikmati coklat hangat itu sambil bercerita bersama Rino

****

“Aduhh… apaan lagi, sih ini?” tanyaku kesal bercampur penasaran begitu Rino melarikanku dari kerumunan teman-temanku disabtu pagi saat aku jogging ditengah taman kota

“Tenang, ini kejutan buat kamu” kata Rino “ntar, ya… satu, dua, tiga…” Rino membuka ikatan dimataku

“Hey… hehehe… ini luar biasa banget.. thank you” tak sadar saking kegirangannya aku memeluk Rino dan kami hampir terjatuh “uppsss… sorry” aku mendadak salah tingkah dengan wajah bersemu merah

“Gak, pa-pa. Aku senang, kok.. hehehe”

“Sial” pekik dalam hati “maksud kamu gimana?” tanyaku selidik

“Aku senang kamu bahagia dengan semua ini”

“Iya, aku seneng banget, padahal ntar lagi aku akan balik keIndonesia, kalau bukan karna kamu aku gak akan lihat moment-moment indah seperti ini, makasih, ya Rino”

“Iya, sayang” ucap Rino tak sadar, dan aku mendeliknya “maaf” jawab Rino

“Gak, pa-pa. Aku senang kok, hehehe” balasku

“Buset, dah… aku dikerjain”

Hahaha… kami beruda tertawa bersamaan, dan.. Rino mendekat padaku, memberanikan memegang kedua tanganku sambil menatapku, kurasakan desahan nafasnya yang berat. Sepertinya ia ingin menyampaikan sesuatu, tapi ia ketakutan untuk menyampaikannya

“Kenapa?”

“Aku.. mau ngomong…”

“Dari tadikan uda ngomong”

“Yeee… ini beda kali, hehehe”

“Ya, uda ngomong”

“Aku mau bilang, kasih aku kesempatan untuk masuk kehatimu dan memperbaiki hatimu yang telah hancur, bolehkah?”

Aku terdiam, Rino juga. Hening… yang terdengar hanya suara desiran angin dari kincir angin yang berputar menerbangkan aroma segar bunga tulip yang sedang bermekaran

“Tapi, aku gak maksa kok kalau kamu gak mau” kata Rino cepat seakan ia takut aku akan marah

“Boleh, kok. Boleh banget…”

“Serius…???”

Aku mengangukkan kepalaku penuh keyakinan

Rino memelukku erat, aku tersenyum dan merasakan hangatnya pelukan Rino

“Kamu tau, gak. Aku susah payah cari informasi tentang kamu, apa yang kamu suka, apa yang kamu benci, dan apa yang membuat kamu terluka”

“Sampai segitunya?”
“Iya. Karna aku gak ingin kehilangan kamu, meskipun nanti kamu akan kembali keIndonesia dan aku melanjutkan kuliahku disini bersama sepupu kamu. Aku uda lama memperhatikanmu, jauh sebelum kamu datang berlibur keBelanda”

“Serius?”

“Iya”

“Ya, ampun…. hehehe” aku bahagia “berarti kamu tahu, dong kalau aku tak ingin disakiti lagi”

“Tahu banget…”

“Wooiii… buruannn… aku uda lapar, nih…” teriak Lukas kakak sepupuku yang kebetulan adalah temen satu kampus Rino diBelanda

Ini adalah moment liburan terindah buatku, karna aku dapat cinta yang baru. Gak sia-sia sepupuku mengajak liburan dan tinggal dirumahnya, Dibelanda

Seperti tulip dan kincir angin, mereka akan selalu bersama, begitupun cinta kami, akan terus bersama meski akan berjauhan untuk sementara waktu sampai Rino kembali keIndonesia setelah selesai menyelesaikan kuliahnya diBelanda

“Eh, uda, yuk. Kakak kamu uda marah, tuh. Sepertinya dia uda lapar banget, ntar kita lagi yang dimangsa sama dia”

“Hahaha… ada-ada aja kamu”

Aku dan Rino bergegas berlari menghampiri teman-teman dan sepupuku yang sudah menanti kami sambil tersenyum mengejek, hehehe…

ditulis oleh :EVA SIREGAR

cinta…

Standar

Cinta itu bukan sekedar kata-kata

Cinta itu bukan rayuan gombal

Cinta itu bukan janji semata

Cinta itu bukan puitisme

Cinta itu bukan Nafsu

Cinta itu tak mengenal kata  lelah

Cinta itu tak mengenal kata bosan

Cinta itu tak mengenal jarak, ruang dan waktu

Cinta itu butuh pengorbanan

Cinta itu butuh kesetian

Cinta itu butuh komitmen

Cinta itu butuh kejujuran

Cinta itu butuh pengertian

Cinta itu tak akan melupakan kekasihnya, ketika ia bersama sahabatnya

Cinta itu tak akan melupakan kekasihnya, ketika ia bersama bidadari surga ataupun putri khayangan

Cinta itu tak akan melupakan kekasihnya, ketika ia disibukkan dengan segala pekerjaannya

Cinta itu tak akan membiarkan kekasihnya menangis

Cinta itu tak akan membiarkan kekasihnya terluka ataupun dilukai

Cinta itu tak akan membiarkan kekasihnya merasa sendiri, meski jarak memisahkan

Karna sesungguhnya cinta sejati berasal dari dalam hati, dibarengi ketulusan, kelembutan berpondasikan kasih dan saling melengkapi satu sama lain…

ditulis oleh : EVA SIREGAR

KAU LEBIH DARI SEGALANYA

Standar

Kau lah yang paling setia didalam hidupku
Kau lebih dari apapun yang diatas tanah dan dibawah bumi
Kau oksigen dan matahari yang selalu memberiku semangat
Kau juga menyediakan segala yang kubutuhkan didalam dunia ini

Aku sering kali meninggalkanMu
Aku sering kali mengkhinatiMU
Aku ini tak setia padaMU
Tapi Kau tetap bersamaku

Dunia sering kali memberikanku sesuatu seolah-olah itu adalah surga
Dan aku terbuai didalamnya

Akupun terjatuh, mereka semua pergi
Hilang, hilang tanpa jejak
Aku hanyut, terbawa arus air mataku
Gelap merusak hatiku

Sepi memasung hatiku, tubuhku tersandera oleh derita
Aku lelah, aku lemah tak berteman
Ingin rasanya mata ini kupejamkan selamanya, agar aku tak melihat kemunafikan dan kebohongan lagi

Ditengah deritaku, kudengar bisikanMU memanggilku
Kau berikan aku kekuatan lebih dari gagahnya matahari yang bersinar
Kau hadirkan kesejukan melebihi air sungai yang bening

KeberadaanMu disisiku begitu berarti dalam hidupku, tak satupun sanggup menyaingi kasih setiaMU padaku
Seperti pelangi, Kau memberiku warna ditengah kesesakan hidup tanpa warna
Trimakasih, untuk segala hal dariMU
Trimakasih, untuk alam semesta dan isinya yang Kau limpahkan untuk kami yang tak bisa menghargai pemberianMU
Ajarlah kami, untuk menghitung hari-hari kami didunia fana ini
Ajarlah kami, untuk saling mengampuni dan menyayangi setiap mahluk ciptaanMU
Ajarlah kami, untuk bisa menyatukan hati dalam perbedaan yang seringkali menjadi batas persaudaraan

Kuatkanlah aku, ketika aku harus merelakan orang yang aku cintai menari bersama dia diatas luka yang digores teramat dalam dihatiku

Aku ingin jadi pecintaMU, selamanya
Hanya cintaMU yang akan selalu abadi, meski dunia akan hancur berkeping-keping
By: MELVA THERESIA SIREGAR

KUTERPESONA CINTAMU

Standar

Aku menemukan banyak cinta dikehidupanku, namun tak ada cinta yang seindah darimu. Dulu, mereka mengatakan tak akan meninggalkan aku, tapi… nyatanya mereka memadamkan cahayaku
Dulu, mereka katakan, akulah matahari dan bintang yang bersinar untuknya. Nyatanya, mereka yang memadamkan cahayaku
Dulu, mereka juga katakan mencintai aku dan tergila-gila olehku. Tapi…nyatanya cintanya yang hampir membunuhku dan sempat membuatku gila akibat terlalu percaya dan berharap
****
Bandara Hang Nadim, Batam…
Cuaca cerah, dengan panas yang menyengat, hawa ini yang dulu setia menemani hariku dan memandikan aku dengan keringat. Semenjak kuputuskan meninggalkan kota Batam 2 tahun lalu kemudian hijrah keBali. Inilah kali pertamanya aku menginjakkan kaki kembali keBatam
Kakiku menuntun langkahku menuruni anak tangga pesawat yang sudah landing ditanah yang banyak memberiku kenangan pahit sekaligus pelajaran cinta yang teramat dalam tentang sebuah pengorbanan
Hatiku berdetak kencang ketika kakiku menginjak tanah bandara yang berlapis aspal tebal dengan kokohnya sehingga setiap pesawat yang singgah mengantar dan menjemput para penumpang dapat mendarat dengan mulus
Kuperhatikan bangunan bandara yang terlihat mewah dengan tiang-tiang besar dan kuat
“Tak banyak yang berubah” kataku pelan sambil tersenyum tipis, sesekali mataku melirik kanan-kiri melihat para penumpang yang juga baru sampai dibandara
Ada rasa haru, bahagia dan juga tetes air mata ketika mereka berjumpa kembali dengan orang-orang yang mereka cintai. Pelukan erat dan cium mesra penuh kehangatan terlihat dari mereka
Kuambil travel bagku kembali dari bagian pemeriksaan barang setelah memalingkan wajah dari acara haru biru tersebut dan perlahan keluar dari dalam bandara sambil menarik travel bag ku sambil mencari-cari dua mahluk yang berjanji akan menjemputku dibandara
“Lanaaa….!!!”
Aku terkejut bukan main mendegar jeritan itu, suara yang tak asing lagi ditelingaku. Aku membalikkan badanku kearah suara yang mirip kaleng kosong dan sangat nyaring terdengar ketika dipukul dengan kayu
“Huuuffftttt…” aku menghela nafas panjang “aku sudah tebak, tadi itu pasti suara kalian berdua” kataku jutek lalu tersenyum dan memeluk mereka satu persatu melepaskan rasa rindu
“I missu you all…” kataku dengan suara sedikit serak menahan rasa haru didadaku
“Aku juga…” jawab Vana terlebih dahulu memeluk sambil mencium pipiku kanan kiri
“Aku juga kangen banget, loh…hehehe” Fina tak mau ketinggalan lalu memeluk sangat erat hingga aku sesak nafas
“Aduhhh… kamu, tuh ya badan kurus gitu pelukannya erat banget” kataku kesal setengah meledek karna pelukannya membuat nafasku sesak sampai aku batuk-batuk dibuatnya
“Hehehe… maklulmlah Lana…, aku kangen berat sama kamu uda lama gak ketemu”
“Iya…iya…”
Fina dan Vana dulunya adalah teman satu kerja denganku, setelah dua tahun bekerja ditempat yang sama Fina habis kontrak dan kerja jadi seorang tukang make-up untuk orang yang nikahan sambil membuka toko kecil bersama adik perempuannya Dita, sementara Vana bekerja menjadi seorang manager hotel disalah satu hotel bintang lima dibatam, dan kini ia sudah punya mobil sedan yang selalu diimpikannya dari dulu
“Hei…kamu tampak luar biasa dan makin cantik sekarang” kata Vana yang betubuh bohai dan bermata sipit
Vana adalah gadis keturunan tionghoa, kulitnya putih mulus bak porselen dan berkilau mengalahkan permata yang tertimpa sinar matahari. Vana dan aku sama-sama pemeluk Kristen, hanya dia seorang protestan dan aku khatolik
“Benar Na…, makin cantik dan pastinya Lana sudah sukses. Lihat aja pakaiannya, bermerek bukkk…. hehehe” Fina cewek hitam manis yang bertubuh kurus ini tak mau ketinggalan memberikan komentar tentang penampilanku
“Dasar usil…” kataku dingin lalu tertawa bersama mereka
Kami memang banyak perbedaan, jika aku dan Vana adalah Kristen, Fina adalah seorang muslim, tapi perbedaan suku dan agama antara kami tak membuat kami menjadi berjauhan, kami selalu saling menghormati keyakinan dan adat istiadat masing-masing
Perbedaan itu kami buat seperti pelangi yang bersinar dilangit sesudah hujan, lalu ia akan memancarkan warna-warni yang memikat hati, begitupun dengan persahabatan kami. Aku yang berasal dari Sumatera Utara, Vana yang berdarah Tionghoa dan Fina yang orang Jawa. Semuanya kami buat seperti warna-warni kehidupan dalam persahabatan kami dan tak perlu untuk diperdebatkan
“Hmmm… ya, udah. Lalu berapa lama lagi kita berdiri disini?” tanyaku dengan perut yang mulai berdemo minta segera diisi ulang
“Hehehe… iya, ya… aku juga uda laper banget” Vana terkekeh lalu menarik tanganku keluar dari dalam bandara diikuti oleh Fina
“Wewww…. Jadi juga, nih keliling dengan mobil sedan bu Vana” kata Fina bercanda ketika kami sampai diparkiran mobil
“Ya, uda. Ayooo….buruan masuk” kata Vana yang sudah masuk terlebih dahulu
Tanpa membuang waktu lebih banyak lagi kamipun segera masuk, perlahan Vana menyetir mobilnya dan membawanya keluar dari area bandara, sepanjang jalan kami bercerita tentang kehidupan dan seputar cinta yang kami jalani dalam hidup kami masing-masing
*****
Aku duduk seorang diri disiang hari didekat pantai Ocarina yang terletak tak jauh dari tengah-tengah kota. Aku memandang lepas lautan yang dibalut ombak, lalu kutatap satu-persatu kapal yang pergi dari terminal ferry keluar dari Batam
Angin yang menyentuh kulitku terasa masih sangat sama, dan ombak yang menghempas kapal-kapal kecil nelayan membuatnya terombang-ambing ditepian, persis seperti hatiku yang dulu, yang dia buat hanya seperti pelabuhan, persandaraan sementara
Tempat ini masih sama seperti dulu, dikala malam aku dan dia sering duduk berdua memandang lampu-lampu kapal nelayan yang sedang berlayar atau bersandar dipelabuhan. Dalam pelukannya aku akan merasa aman meski angin malam berusaha merasuki tubuhku, tapi hangatnya pelukannya mengalahkan angin malam,apalgi ketika ia mengenggam erat tanganku dan membelai rambutku. Aku senang, perasaanku seperti terbang kelangit
****
Akhirnya Vana menikah setelah dua tahun hal itu dinanti-nantikannya, dan karna Vana jugalah aku nekat terbang keBatam disela-sela padatnya pesanan pakaian yang harus kuselesaikan pada para pelangganku
Dibali, aku bekerja sebagai seorang desainer, dan akhirnya aku membuka butik sekaligus bridal yang lengkap dengan photo studio dan even organizer wedding party bersama Davin, patner bisnisku yang sudah lama menjadi sahabatku dan kukenal dari jejaring sosial
Vana berjalan kealtar dengan gaun selayar warna putih yang menyapu lantai. Sebelumnya, Vana sudah sering meneriakiku melalui telepon genggamnya
“Lanaaa…!!! Aku gak mau tau, ya. Pokoknya gaun pengantinku harus kamu yang desain dan buatin untukku!”
“Dasar edan!” pikirku saat itu, mengingat aku tengah sibuk dengan pesanan yang sudah lebih dulu datang menyita banyak waktuku, tapi, ya sudahlah. Demi teman, akhirnya akupun lakukan
Aku ingin Vana bahagia dan terlihat sangat cantik dalam balutan gaun pengantinnya itu dihari sakral yang sudah sangat lama ia impikan. Aku tersenyum puas melihatnya hari ini tampil sangat menawan hingga setiap mata yang melihatnya terkesima
Acara pemberkatan Vana berlangsung sakral dan sangat menyentuh. Apalagi Fina sibungsu diantara kami bertiga terharu sampai menitikkan air mata lalu bersandar dibahu kekasihnya yang juga turut datang menghadiri acara pemberkatan pernikahan Vana
Dari raut wajah Fina, tersirat kalau ia juga ingin segera dapat seperti Vana, bersanding dengan orang yang ia cintai, dan seolah kekasihnya mengerti keinginan terpendam Fina, ia memegang erat tangan Fina lalu mencium kening Fina lembut sambil tersenyum. Wajah Fina seketika bersinar seperti matahari
****
“Hi…”
Kudengar ada suara menyapa kearahku dan membuyarkan lamunanku. Aku meliriknya untuk waktu yang cukup lama hingga aku bisa memastikan siapa dia
“Kamu…???” tanyaku tak percaya
Sekuat tenaga aku coba menenangkan hatiku dan membiarkan angin lalu menyapu emosiku, lalu memoriku kembali pada dua tahun lalu, dimana aku merasa sangat dikhiantai oleh dia yang begitu aku cintai, bahkan disaat semua orang meninggalkannya dan ia tak memiliki apapun aku tetap bertahan disampingnya dan menemaninya
Tapi…aku dibalas dengan rasa sakit yang luar biasa, hingga detik ini saat bertatap muka denganya aku hampir menuangkan air mataku kembali
“Apa khabar Lana…???” Tanyanya lembut dengan senyum manis yang selalu kurindukan itu masih saja membuat hatiku bergetar “senang bisa bertemu denganmu kembali, bagaimana rasanya tinggal diBali?”
“Baik” jawabku datar lalu membuang pandanganku kembali kehamparan laut lepas, aku tak menyangka ia tahu kalau aku telah hijrah keBali
“Hal seperti ini sering kali aku rindukan?”
Aku menoleh sejenak pada Edo “Maksudnya?” tanyaku tak mengerti dan kemudian mataku mengamati burung-burung yang terbang beriringan dilangit
“Sejujurnya aku sangat merindukanmu”
Hatiku seperti diterjang ombak dan aku hampir goyah, lalu kupegangi jari manis ditanganku. Aku mengelus-elus cincin putih berukir nama pendamping hidupku yang sudah banyak memberi cinta untukku setelah aku porak-poranda dan hampir binasa oleh cintanya
“Tak seharusnya kamu merindukan aku” jawabku lirih
“Kenapa?”
“Karna kita tak lagi seperti dulu”
“Lalu apa karna kita tak lagi seperti dulu, aku tak bisa lagi merindukanmu?”
“Ya” jawabku singkat
“Aneh sekali” Edo tertawa kecil meledekku
“Sudahlah, kembalilah segera kepada bidadari surgamu”
“Tapi aku masih mencintaimu”
“Dan, aku sudah tak lagi mencintaimu”
“Kenapa cinta itu bisa hilang dari ingatanmu?”
“Karna kamu yang memaksa aku untuk melakukannya, dan kamu yang membuatku membunuh rindu”
Huufffttt…kudengar Edo mengehela nafas panjang dan terasa sangat berat
“Aku menyesal telah melakukan semua ini padamu” kata Edo dengan nada sedih penuh penyesalan “harusnya aku tak melepaskanmu, aku memang bodoh tak bisa melihat cinta darimu yang begitu besar dan tulus padaku”
“Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Aku tak ingin membahasnya lagi. Kembalilah pada bidadari surgamu yang kamu sebut dulu paling mengerti kamu dan memenuhi semua kebutuhanmu, tidak seperti aku yang tak bisa sempurna seperti dia”
“Kembalilah padaku, kita ulang semua dari awal” kata Edo seperti kerasukan orang jahat
“Tidak!” jawabku cepat
Edo menatapku, aku menunjukkan jari manisku yang memakai cincin putih
“Davin?” Tanya Edo dengan muka terkejut
“Ya, Davin! dia adalah suamiku. Dan aku ingin setia selamanya padanya, bukan hanya untuk sesaat tapi seumur hidupku” kataku tersenyum bangga “dan hilangkan niat jelekmu untuk mengambil aku dari dia, karna aku tak akan tersentuh hati pria lain lagi selain suamiku. Pernikahan bagiku adalah suatu yang sakral, jadi berhentilah berangan. Kembalilah pada bidadari surgamu, dan aku juga besok pagi akan kembali pada pelukan suamiku tercinta”
Edo menatapku tanpa sepatah katapun, ada penyesalan jelas tergambar diwajahnya mengetahui ternyata aku telah menikah
“Kamu bahagia bersamanya?” Tanya Edo lirih
“Iya” jawabku singkat “lalu, bagaimana dengan kamu?” kataku balik bertanya
Ia menggeleng
“Harusnya kamu berbahagia, karna kamu sudah berhasil membuat aku hancur dulu, bahkan tiap malam aku menangis mengingat pengkhianatanmu. Trimakasih, Tuhan. Davin dihadirkan Tuhan untukku untuk mengganti cinta palsumu”
Edo tertunduk lesu, dan hanya bisa menghela nafas menyesali perbuatannya
“Kembalilah pada bidadari surgamu, apapun masalahmu saat ini dengannya, selesaikanlah dengan baik. Jangan pertahankan sikap keras kepalamu itu. Aku yakin, bidadari surga kamu itu masih sangat mencintaimu dan menunggumu”
“Kenapa kamu begitu yakin, sementara kamu sendiri tak pernah bertatap muka denganya”
Aku tersenyum sambil mengangkat bahu “Aku hanya feeling saja, apa kamu lupa kalau aku itu 80% dipengaruhi oleh feeling, dan 80% itu hampir selalu benar, hehehe…” aku tersenyum geli sambil memandangnya
Edo memandangku sejenak, lalu ia memegang tanganku, awalnya aku ingin mengelak, tapi aku biarkan karna aku merasa ada yang ingin ia sampaikan
“Lana…”
“Ya”
“Apa kamu bahagia hidup bersama Davin?”
“Iya…” aku menganguk
“Oke, baiklah. Sepertinya aku harus benar-benar merelakanmu bersamanya, dan semua ini karna kesalahanku” tangan Edo pun memegangi wajahku menatapku lekat “kamu harus bahagia, ya Lana… katakan pada Davin, jika ia menyia-nyiakanmu, aku tidak akan segan-segan membawamu lari pergi darinya”
Aku tersenyum “Iya. Nanti aku katakan padanya. Tapi aku berterimakasih pada Tuhan dia dihadirkan untuk menemaniku, dan aku berharap itu sampai selamanya, sampai kematian yang memisahkan kami. Kalau bukan karna Davin yang memberikan aku cinta, mungkin saat ini aku tak bisa berdiri diatas kakiku sendiri” kataku sambil melepaskan tangannya
Dari dalam tasku, terdengar suara nyaring hp berbunyi. Aku ambil dan lihat kalau panggilan itu dari Davin
“Iya, hallo sayang…” kataku manja penuh kerinduan padanya
Dari pertama kali aku kenal Davin aku memang terbiasa manja dan suka mengadu padanya tentang segala hal yang aku alami, hingga akhirnya cinta yang mempersatukan kami, dan aku ingin selamanya bersama Davin. selamanya bersama cinta yang akan terus hidup dan bergelora didalam hati kami berdua
“Iya, aku akan segera kembali. Aku sayang kamu, aku juga sangat rindu kamu…bye..bye… my hubby” kataku menutup telepon setelah percakapan panjang bersama Davin dan meninggalkan Edo sendirian dalam waktu yang cukup lama
“Hi… sorry…suami aku telepon” kataku sambil menunjukkan hp yang masih kugenggam dengan sisa-sisa senyuman yang masih terbingkai disudut bibirku
“No, problem. Aku mengerti, kok. Sekarang aku yakin, kalau dia memang mampu membuatmu bahagia. Dulu selama bersamaku, kamu tak pernah tersenyum dan sebahagia ini. Aku benar-benar bodoh membiarkanmu pergi”
“Jangan katakan begitu”
“Maafkan aku atas semua kesalahanku selama ini sama kamu”
Aku menganguk sambil tersenyum “Ya, uda. Kalau gitu aku pamit dulu, ya. Kamu jaga diri baik-baik”
“Ok”
Aku dan Edo berjabat tangan layaknya sepeti sahabat, setelah ia mengacak-acak rambutku sambil tertawa kecil, ia membiarkan aku pergi. Ada perasaan tenang setelah berbicara dan bertemu dengannya. Aku bahagia bisa menyelesaikan masalah hati yang masih tertinggal dikota Batam
Kini aku ingin kembali keBali, menemui Davin yang sudah tak sabar menunggu kepulanganku, begitupun aku, aku sudah tak sabar bertemu dengannya, apalagi selama tiga hari diBatam aku tak pernah bisa tertidur karna kebiasaanku yang harus tidur dipelukannya tiap malam
“Tunggu aku pulang, sayang…aku sangat merindukanmu…”
Aku tersenyum sambil menatap langit malam yang bertaburan bintang bersinar terang dilangit dari balik jendela taxi yang membawaku menuju kekamar hotel tempat aku menginap selama diBatam
BY: MELVA THERESIA SIREGAR

Standar

SURGAKU ITU KAMU
Pernahkah terpikir olehmu, untuk apa aku tercipta! karna engkau, aku tercipta! dan dari tulang rusukmu, untuk menemanimu, menyemai cinta bersamamu
Aku lelah menanti sebuah harapan yang tak kunjung menghampiriku. Aku ingin kau ada untuk menemaniku, menjadi sandaran hatiku, menjadi pelindung untukku, bukan untuk temanku bertengkar
Coba, dengar isi hatiku…
Aku ingin merasakan belaian kasih mesramu yang penuh kehangatan cinta, meluangkan waktu untukku meski hanya sedetik itu akan membuatku sangat bahagia
Aku tahu, hidup itu butuh materi dan melihat fisik, tapi bagiku itu bukanlah hal yang utama
Aku menilaimu dari hatimu, untuk itu, tolong pahami aku

kekasihku…
Hari begitu panjang dan membosankan jika tak ada kau bersamaku
Tak ada niatku melarangmu melakukan kegilaan dalam duniamu, menghabiskan waktu bersama teman-temanmu, tapi aku pinta jagalah selalu hatimu agar selalu untukku, sekalipun kau dikelilingi putri kayangan dan bidadari surga yang cantik rupawan. Katakanlah, “kau ada yang memiliki dan aku pun telah memiliki hatinya”
Bagiku, kau adalah surgaku, surga kecilku selama aku didunia ini. Jangan sakiti aku dengan perlakuan kasarmu, jangan memakiku dengan tajamnya perkataanmu, dan satu hal yang paling penting jangan perlakukan aku sebagai budak nafsumu
Sebab aku kekasihmu…..!!!
Dengarkanlah aku, pahamilah aku kekasihku….!!!
Make me smile every time my dear

Ditulis oleh : Eva Siregar

Standar

TRIMAKASIH BUATKU TERSENYUM
Aku sedang rindu menulis puisi lagi
Lama sudah kumuseumkan penaku
Sementara kertasku t’lah kusam tertutup debu

Ohhh… aku merintih sedih menyesali kebodohanku
Aku mengeras akibat luka dihatiku
Kuhabiskan ribuan tahun menenggelamkan diri dalam kesepian, berusaha membunuh rasa

Sejujurnya, aku lelah dan tak ingin terlibat lagi dengan namanya cinta
Tapi cinta menemukan jalannya sendiri

Kau mahluk yang dikirim olehNya, dari planet lain untukku
Katamu “Tugasku membuatmu tersenyum”
Kau pungut kembali puing-puing hatiku yang hancur
Kau lebur dalam kehangatanmu, menjadikannya baru dan bersinar lagi

Dipadang luas yang berumput hijau
Kau hadirkan alunan merdu menyentuh kalbu dari ilalang yang berbisik penasaran

Pena usangku kau ganti dengan pelangi sejuta warna
Kau berikan awan putih sebagai kertas baruku

Kan kutuliskan kisah tentang kita
Lalu kuabadikan didinding langit biru
Biar semua orang tau…
Senyumku t’lah kembali olehmu

Dan… biarlah manis perjalananku bersamamu, diplanet lain tempatmu berpijak

Ditulis oleh : Eva Siregar