Standar

“JOLO TINIKTIK SANGGAR LAHO BAHENON HURU-HURUAN, JOLO SINUKKUN MARGA ASA BINOTO PARTUTURAN”

Ungkapan diatas adalah salah satu umpama atau ungkapan yang sering sekali dipakai orang batak,  khususnya untuk muda-mudi dalam memulai satu perkenalan dengan siapapun terlebih dengan lawan jenis, hal ini berfungsi untuk mengetahui penempatan posisi kita dalam ikatan keluarga atau yang biasa orang batak katakan sebagai tarombo atau pertalian marga

Orang batak terkenal dengan budaya ikatan kekeluargaannya yang sangat kuat, setiap individu yang lahir dalam keluarga batak akan disematkan marga dari sang ayah, karna garis keturunan mengikuti ayah bukan ibu. Contohnya, saya sendiri yang memang asli berdarah batak. Ibu saya asli orang batak dari Tapanuli Utara, dan untuk perempuan dalam suku batak tidak dikatakan marga, melainkan boru, pertandakan dia adalah perempuan. Ibu saya boru bakkara lalu menikah dengan ayah saya yang asli orang Tapanuli tengah, dikarenakan ada pembedaan dalam hal ini, maka setiap anak laki-laki akan diberi marga yang diturunkan dari nenek moyang mereka masing-masing, seperti hal nya ayah saya yang bermarga siregar, dan otomatis saya sendiripun jadi siregar, tapi lebih tepatnya disebut boru regar

Pertalian marga yang begitu kuat pada orang batak membuat orang batak gampang menemukan saudaranya dibelahan dunia mana saja, tapi dalam konteks yang individu tersebut harus mengetahui dia marga apa, nomor berapa, keturunan siapa dan darimana marga itu berasal

Memang benar, sih beberapa orang mengatakan kalau orang batak itu agak sedikit ribet karna harus bisa menghapal tarombonya masing-masing. Seperti halnya saya sendiri. Saya yang notabenenya adalah anak rantau diBatam jika suatu saat bertemu dan kenalan dengan orang suku Batak sendiri saya harus mampu menuturkan tarombo saya

Contohnya, saya boru regar, lebih tepatnya siregar sormin atau silo, nomor marga 18, keturunan dari oppung najumambe yang berasal dari daerah pangaribuan toba-samosir. Itulah silsilah marga saya sendiri. Hal ini berguna agar kita orang batak bisa mengetahui, kita harus memanggil apa dia(suku batak) dalam marga. Apa kita harus memanggil dia tulang (paman), bapa uda, bapa tua, namboru (tante/mertua yang tidak sah dalam adat batak), pariban (pacar yang tidak sah dalam marga) atau ito (saudara dalam marga)

Hal partuturan atau pengenalan marga dalam adat batak sangat perlu, agar nantinya tidak terjadi kesalahan dalam penempatan pertalian marga dalam adat batak, karna itu bisa berakibat hal yang tidak baik

Contoh, kasusnya adalah, saudara saya sendiri yang boru regar menjalin hubungan kasih dengan seorang pria yang juga bermarga siregar. Dalam adat batak hal ini adalah salah besar dan sangat membuat malu keluarga besar karna bisa jadi batu sandungan buat mereka kelak jika terjadi pernikahan diantara mereka berdua

Secara pribadi saya sendiri kurang setuju dengan hubungan mereka ini, tapi saya tidak perlu menghakimi mereka secara berlebihan dan tetap menghargai keputusan mereka berdua meski saya sendiri tahu kalau hal itu salah, tapi dibalik semua itu saya menyerahkan semua keputusan kepada mereka berdua dan harus bertanggung jawab atas keputusan mereka itu nantinya

Tapi, beda saya dengan ibu saya dan keluarga si pria tersebut, bagi mereka ini adalah aib, atau kesalahan besar dan sangat membuat malu kedua belah pihak keluarga. Keluarga sipria dan keluarga saya sendiri sangat menentang hal ini dan tidak menyetujui hubungan mereka berdua, karna dalam adat batak mereka berdua adalah saudara meski beda darah dan daging, dalam adat batak itu sangat dilarang, bagaimanapun mereka itu saudara dan sesama saudara tidak diperkenankan menikah, bagaimana urusan adatnya nanti jika terjadi pernikahan diantara mereka berdua… entahlah, saya sendiripun bingung

Itu adalah salah satu contoh yang berkaitan dengan pengenalan marga dalam adat batak agar tidak terjadi kesalahan dan penyesalan dibelakangnya

Terlepas dari semua itu, keputusan akan satu hal ada ditangan kita, kebebasan memilih dan menentukan ada dalam diri kita masing-masing, tapi alangkah baiknya kita orang Indonesia yang mempunyai kebergaman adat istiadat dan kebudayaan dalam suku masing-masing tetap memegang teguh kebudayaan kita dan bisa menempatkan diri kita dalam hidup kita masing-masing, karna menurut saya sendiri, adat itu masih sangat perlu dilestarikan dan dibudayakan dalam kehidupan masing-masing, karna bagaimanapun dengan adat kita bisa terbantu dalam memecahkan masalah, karna dari adat kita punya kerabat dan keluarga besar, jadilah orang yang bijak dalam mengambil keputusan hidup

banner sadar hati berbahasa daerah

“Tulisan ini disertakan dalam kontes GA Sadar Hati- Bahasa Daerah Harus Diminati”

 

 

Ditulis oleh : Eva Siregar

 

Iklan

2 respons untuk ‘

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s